Perubahanyang dialami para remaja tersebut meliputi pemahaman tentang diri sendiri, pembentukan identitas diri, emosi mudah berubah, dan persiapan masa dewasa yang ditandai dengan mulai merasakan akan pentingnya sebuah pencapaian dan penempatan peran dalam lingkungan sosial. Pada umumnya remaja memiliki keingintahuan yang besar. Dilansirdari Encyclopedia Britannica, orang yang telah memasuki masa dewasa mulai berpikir untuk mandiri dan bertanggung jawab. Categories Tanya Jawab Post navigation Dalam teks negosiasi, bagian pemenuhan biasanya memberitahukan tentang barang atau permasalahan agar lawan interaksi menjadi lebih paham. Tiaporang yang memasuki masa remaja akan mengalami perubahan dalam daya pikir, yang mana sifat kekanak-kanakannya akan hilang dan berubah menjadi manusia yang berpikir secara rasional. Dalam fase ini, seseorang akan mulai memikirkan atau sekedar merencanakan masa depan untuk dirinya sendiri. PerkembanganAnak Usia 12-14 Tahun. Perkembangan psikologi anak yang perlu diperhatikan oleh para orang tua yaitu saat anak memasuki usia 12-14 tahun. Seperti yang diketahui, seiring beranjak nya usia, anak-anak mulai memasuki masa remaja dan mereka cenderung menginginkan independensi. 3Mengobati luka kecil. Ajari anak untuk tidak mudah panik ketika terluka. Beritahu apa yang harus dilakukan setelah terluka jatuh dari sepeda, tergores pisau, dan lain lain. Mengajari kemampuan dasar ini bahkan lebih mudah dan lebih baik sebelum ia masuk ke masa remaja. Tentu wajar jika anak menangis dan merengek saat terjatuh. BagaimanaAnda tahu bahwa Anda telah memasuki masa pubertas? Tanda-tanda pertama pubertas muncul pada waktu yang berbeda untuk orang yang berbeda. Anak laki-laki mungkin menyadari dia mencapai pubertas ketika dia mulai perlu mencukur. Seorang gadis, di sisi lain, mulai mendapatkan periode menstruasi selama masa pubertas. Pubertas dan Remaja Pubertas adalah tahap kehidupan ketika seorang anak b Masa remaja pertengahan (15-18 tahun) Masa ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan berpikir yang baru.Teman sebaya masih memiliki peran yang penting, namun individu sudah lebih mampu mengarahkan diri sendiri (self-directed).Pada masa ini remaja mulai mengembangkan kematangan tingkah laku, belajar Masaini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa. Selama periode ini remaja berusaha memantapkan tujuan vokasional dan mengembangkan sense of personal identity. individu pada masa remaja mulai mampu berpikir abstrak seperti orang dewasa. Pada periode ini pula remaja mulai melepaskan diri secara emosional dari DelimaRosalia, Thursday, 30 Sep 2021. Sangat benar ketika kita sudah memasuki masa remaja kita mulai-mulai mencari jati diri kita sendiri untuk kedepannya seperti apa dan sebagai seorang remaja harus memiliki pemikiran yang kritis dengan adanya berpikir kritis ini kita dapat membedakan mana hal yang dapat merubah kita kearah yang positif atau malah sebaliknya ke arah yang negatif,Terimakasih Mulaimerasakan kekurangan diri, namun belajar untuk menerimanya. Mengembangkan hubungan sosial yang lebih luas dan lebih kuat. Mulai memahami bagaimana tindakan dan keputusan yang diambil memberikan pengaruh pada masa depan. Baca juga: Perbedaan Masa Sebelum dan Sesudah Pubertas pada Laki-laki. Tugas perkembangan remaja. Ketika memasuki masa JVy6. Hal ini karena keterbukaan untuk menerima pendapat serta berkompromi dengan orang disekitar. Tidak hanya itu saja, Anda juga sudah seharusnya mempersiapkan diri karena ada kemungkinan remaja mempunyai hubungan yang lebih serius dengan pacar. Maka dari itu, penting untuk membangun komunikasi serta memberikan pendidikan seksual sejak dini. Penyebab remaja mulai memberontak Pertengkaran orangtua dengan anak bisa berujung pada keinginan kabur dari rumah karena ia sedang berada dalam fase pemberontakan. Ini juga hal yang bisa terjadi pada perkembangan psikologi atau emosi remaja di usia 18 tahun atau bahkan lebih muda. Ada kalanya ia percaya sudah tak ada lagi pemecahan masalah yang bisa dicapai selain memberontak atau melakukan kenakalan remaja. Beberapa penyebab yang membuat perkembangan emosi remaja jadi memberontak, seperti 1. Merasa tidak aman di rumah Anak bisa saja merasa bahwa situasi di rumah benar-benar menakutkan sehingga mengakibatkan perkembangan psikologisnya terganggu. Hal ini bisa terjadi jika ia menjadi korban kekerasan anak, baik itu kekerasan verbal, fisik, psikologis, atau seksual. 2. Masalah di sekolah atau lingkungan pergaulan Bila terjadi bullying pada remaja di sekolah tapi tidak ada sosok yang bisa membantunya, anak mungkin memilih untuk kabur. Dengan begitu, anak bisa membolos tanpa harus dipaksa ke sekolah oleh orangtua. Hal lain yang mengakibatkan psikologis remaja terganggu adalah ketika terlibat masalah tertentu tapi ia tidak berani menganggung akibat atau hukumannya. Maka, ia pun memilih untuk memberontak seperti lari dari rumah daripada harus menerima konsekuensi. 3. Merasa tidak dihargai Salah satu kasus pemberontakan yang bisa mengganggu psikologi atau emosi remaja adalah anak merasa cemburu dengan kakak atau adiknya. Ia merasa kurang dihargai dan berpikiran bahwa orangtua lebih menyayangi kakak atau adiknya. Selain itu, anak bisa merasa tidak dihargai karena orangtua memberikan hukuman yang sangat berat atas kesalahannya. Dalam kasus lainnya, anak yang merasa tidak mendapat cukup perhatian dari orangtua juga mungkin โ€œmengujiโ€ kasih sayang orangtua dengan cara memberontak. 4. Tidak bijak menggunakan media sosial Media sosial adalah tempat bagi sebagian besar remaja untuk mengekspresikan diri mereka, lewat kata-kata maupun foto. Di antara semua jenis media sosial, instagram cukup mendapat banyak perhatian bagi anak remaja. Melalui instagram, ia bisa mengunggah hasil jepretan foto terbaiknya dan mendapat feedback, berupa like atau komentar. Namun, tidak semua mendapatkan efek positif sehingga memengaruhi perkembangan psikologi atau emosi remaja. Ada juga yang sampai terobsesi dengan hasil selfie sehingga berdampak buruk bagi kesehatan mental remaja. Tips menghadapi kondisi emosi remaja yang tidak menentu Kesabaran setiap orang memang ada batasnya. Namun, sebagai orangtua Anda merupakan peran penting dalam kehidupan anak termasuk pada perkembangan psikologi atau emosi remaja. Maka dari itu, tidak ada salahnya untuk melakukan hal-hal di bawah ini untuk membangun hubungan emosional orangtua dengan anak, seperti 1. Menjaga komunikasi dengan anak Walaupun tidak semua, tetapi ada sebagian remaja yang cenderung acuh tak acuh terhadap orangtua. Kadang anak merasa sudah cukup besar sehingga memperlihatkan sikap seperti tidak membutuhkan peran Anda. Namun, tetap jaga komunikasi dengan cara apapun. Misalnya, menanyakan apa saja yang ia lakukan dan bagaimana perasaannya di hari itu. Lalu, Anda juga bisa meluangkan waktu melakukan hal yang menyenangkan misal menonton film bersama. Dengan begitu, lama-lama ia tahu dan berpikir bahwa secuek apa pun ia, orangtuanya tetap peduli padanya. Menjaga komunikasi dengan anak juga penting dilakukan untuk mencegah terjadinya depresi pada remaja. Anak jadi memiliki orang yang selalu bisa diajak berkeluh kesah soal apa pun yang dialaminya. 2. Saling menghargai pendapat Di masa remaja, ada kalanya ia memiliki pandangan yang berbeda dengan Anda. Jangan langsung menarik urat, pasalnya semakin dewasa anak Anda, pemikirannya pun akan semakin berkembang Ketimbang berdebat kusir, coba diskusikan dan cari solusi yang menguntungkan di kedua belah pihak. Coba dengarkan pandangan anak, begitu pun anak akan mendengarkan apa yang Anda pikirkan. Saling mendengarkan dan menghargai pendapat akan membuat ikatan anak dan orangtua menjadi semakin erat. 3. Melibatkan anak dalam membuat peraturan Saat hendak membuat peraturan tertentu di rumah, libatkan anak dalam diskusi. Hal ini dimaksudkan agar anak bisa bertanggung jawab dan menaati kesepakatan yang telah dibuat. Berikan anak pemahaman bahwa peraturan yang adil dibuat agar ia juga mempunyai kendali pada diri sendiri sekaligus belajar bertanggung jawab. Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail. Masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak menuju masa dewasa. Pada masa ini individu mengalami berbagai perubahan, baik fisik maupun psikis. Perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik, diaman tubuh berkembang pesat sehingga mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang disertai pula dengan berkembangnya kapasitas reproduktif. Selain itu remaja juga berubah secara kognitif dan mulai mampu berpikir abstrak seperti orang dewasa. Pada periode ini pula remaja mulai melepaskan diri secara emosional dari orang tua dalam rangka menjalankan peran sosialnya yang baru sebagai orang dewasa Clarke-Stewart & Friendman, 1987; Ingersoll, 1989. Selain perubahan yang terjadi dalam diri remaja, terdapat pula perubahan dalam lingkungan seperti sikap orang tua atau anggota keluarga lain, guru, teman sebaya, maupun masyarakat pada umumnya. Kondisi ini merupakan reaksi terhadap pertumbuhan remaja. Remaja dituntut untuk mampu menampilkan tingkah laku yang dianggap pantas atau sesuai bagi orang-orang seusainya. Adanya perubahan baik di dalam maupun di luar kebutuhan remaja semakin meningkat terutama kebutuhan sosial dan kebutuhan psikologisnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut remaja memperluas lingkungan sosialnya di luar lingkungan keluarga, seperti lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakat lain. Secara umum masa remaja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai berikut Konopka, 1973 dalam Pikunas, 1976; Ingersoll 1989 Masa remaja awal 12-15 tahun Pada masa ini individu mulai meninggalkan peran sebagai anak-anak dan berusaha mengembangkan diri sebagai individu yang unik dan tidak tergantung pada orang tua. Fokus dari tahap ini adalah penerimaan terhadap bentuk dan kondisi fisik serta adanya konformitas yang kuat dengan teman sebaya. Masa remaja pertengahan 15-18 tahun Masa ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan berpikir yang baru. Teman sebaya masih memiliki peran yang penting, namun individu sudah lebih mampu mengarahkan diri sendiri self-directed. Pada masa ini remaja mulai mengembangkan kematangan tingkah laku, belajar mengendalikan impulsivitas, dan membuat keputusan-keputusan awal yang berkaitan dengan tujuan vokasional yang ingin dicapai. Selain itu penerimaan dari lawan jenis menjadi penting bagi individu. Masa remaja akhir 19-22 tahun Masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa. Selama periode ini remaja berusaha memantapkan tujuan vokasional dan mengembangkan sense of personal identity. Keinginan yang kuat untuk menjadi matang dan diterima dalam kelompok teman sebaya dan orang dewasa, juga menjadi ciri dari tahap ini.